Wednesday, August 15, 2018

WEGE - WIJAYA KARYA BANGUNAN GEDUNG

Perusahaan ini sejatinya baru IPO pada November 2017 lalu, dimana hasil IPO ketika itu perusahaan berhasil mengumpulkan modal sebesar 800an milyar dan dari laporan keuangan akhir tahun 2017 perusahaan memiliki ekuitas sebesar hampir 1,7 triliun. Tapi satu hal yang membuat penulis tertarik adalah, sebelum IPO perusahaan memiliki ekuitas 1,7T dikurang 0,8T hasil IPO maka ekuitas sebelum IPO yaitu sekitar 860M. Dan karena IPO baru saja dilakukan pada akhir 2017 maka bisa dibilang bahwa WEGE selama kinerja 2017 berarti belum menggunakan dana hasil IPO untuk modal kerja operasionalnya, daan lagi apa Anda tahu berapa laba bersih WEGE selama 2017? WEGE berhasil membukukan laba bersih sebesar 295M, dan ini berarti sebelum IPO WEGE memiliki nilai RoE sebesar 34%! Dan dengan nilai RoE sebesar ini, tentu saja WEGE ini bisa dibilang perusahaan yang sangat bagus kinerja dan fundamentalnya. Tapi bagaimana setelah IPO?



Ketika penulis menganalisis laporan kinerja emiten pada Q1 lalu, WEGE sudah menjadi salah satu watchlist yang nanti akan terus dipantau perkembangan kinerjanya. Sayangnya, pada Q1 setelah dana hasil IPO dimasukkan ke ekuitas, RoE WEGE anjlok menjadi hanya sekitar 17%, tetapi ketika itu harganya hanya sekitar 220an dengan PBV 1,2an. Cukup murah memang, tetapi waktu itu penulis belum memutuskan untuk mengambil WEGE karena menjadi tidak fair apabila kita menilai kinerja WEGE dalam memanfaatkan dana hasil IPOnya hanya dalam jangka waktu 3 bulan, akhirnya WEGE kemudian masuk ke dalam watchlist saja dan berharap pada Q2 nanti akan muncul tanda-tanda bahwa RoE WEGE akan bertumbuh.

Dan, ternyata benar, setelah WEGE merilis laporan keuangan Q2 beberapa waktu lalu, RoE WEGE meningkat hampir 20%, ini sepertinya menandakan bahwa WEGE dipandang sangat mumpuni dan profesional dibidangnya karena pada 2018 ini justru semakin banyak kontrak-kontrak proyek pembangungan gedung yang diperoleh WEGE padahal manajemen belum sampai menggunakan 1/4 dana hasil IPO. WEGE baru hanya menggunakan dana hasil IPO sebesar 184M, itupun sekitar 120 milyaran digunakan untuk modal kerja dan pembelian alat produksi. Sisanya digunakan perusahaan untuk kegiatan sejenis CSR seperti  penyediaan ruang terbuka di perkotaan dan infrastruktur sosial, padahal perusahaan memiliki rencana expansi usaha pada bidang pracetak, modular, dan geoteknik yang membutuhkan dana hampir 170milyar, tetapi sampai saat ini belum dilakukan oleh manajemen perusahaan.

Selain itu, walaupun WEGE ini tergolong anak usaha WIKA yang merupakan BUMN, tetapi justru mayoritas kontrak-kontrak yang didapatkan oleh WEGE berasal dari proyek-proyek pihak ketiga yang tidak berafiliasi dengan WIKA. Hingga Q2 WEGE membukukan pendapatan sebesar 2,4 Triliun, dan 2 triliun diantaranya merupakan proyek dari pihak ketiga, sisanya 400milyar baru berasal dari proyek yang bisa dibilang hasil hibah dari induknya. Ini berarti WEGE merupakan perusahaan mandiri yang tidak melulu bergantung dari induknya untuk mendapatkan proyek dan menandakan bahwa WEGE memiliki distinctiveness dari kompetensi integrated constructionnya. Distinctiveness WEGE yang menurut penulis sangat bagus adalah penggunaan komponen beton pracetak dan modular untuk gedung bertingkat sehingga pembangunan lebih cepat, lebih hemat biaya, dan kualitas lebih baik, terlebih tren unit modular saat ini yang menurut penulis membuat desain-desain gedung menjadi lebih inovatif dan modern. Silahkan saja Anda lihat desain dan bangunan Velodrome serta Equestrian Park Pulomas yang dibangun oleh WEGE untuk perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta kali ini.


Nah, jadi bagaimana strategi untuk WEGE ini? Harga WEGE pada minggu ini berkisar antara 220-230an, dengan rentang harga segitu berarti PBVnya sekitar 1,1an. Dan mengingat potensi ke depan dan performa WEGE saat ini yang sangat bagus (hingga saat ini total kontrak yang tengah digarap WEGE sebesar 11,7T, 80% dari target tahun 2018) ditambah lagi rencana ekspansi usaha WEGE ke bidang produksi beton pracetak untuk gedung bertingkat dan unit modular untuk gedung-gedung maka nilai PBV sebesar 1,1 ini terlihat sangat murah. Meskipun saat ini pasar tengah koreksi dalam lagi akibat isu krisis Turki dan nilai tukar rupiah yang makin memburuk, harga WEGE sampai saat ini tidak turun lebih dalam dibandingkan saham-saham konstruksi lain yang menandakan bahwa di harga saat ini WEGE memang sudah sangat murah, dan kalapun turun lebih jauh seharusnya tidak akan turun sampai di bawah 200.

Strateginya, seperti biasa yang penulis sampaikan, Anda boleh hajar kanan di harga saat ini, tapi jangan menggunakan semua dana cash Anda, sisakan sekitar 60% atau 50% untuk nanti dibeli lagi ketika harganya koreksi. Oke, cukup sekian untuk WEGE, dan untuk bahasan berikutnya, kita akan beralih ke salah satu emiten perbankan yang menurut penulis harganya paling murah diantara sesama emiten perbankan lainnya, plus nilai deviden yieldnya yang relatif besar.



*ps: Penulis saat ini memiliki WEGE di range harga 210-230an

1 comment: