Dalam tulisan sebelumnya disini, kita sudah membahas dua metode untuk menentukan harga wajar sebuah saham yaitu dengan menggunakan metode berdasarkan Net Assets Value (aset bersih/ekuitas) dan metode Peter Lynch's Fair PER. Kedua metode ini bisa disebut mengabaikan potensi pertumbuhan suatu perusahaan dalam perhitungannya dan memiliki syarat-syarat tertentu, sehingga tidak banyak saham yang bisa dinilai harga wajarnya menggunakan kedua metode ini. Nah, oleh karena itu, kita beranjak ke metode berikutnya yang menurut penulis lebih cocok dalam menilai harga wajar saham-saham di Indonesia.
Catatan seorang part-time investor terkait analisis dan aksi investasi sahamnya
Showing posts with label Valuasi. Show all posts
Showing posts with label Valuasi. Show all posts
Saturday, November 24, 2018
Sunday, November 11, 2018
Cara Menilai Harga Wajar suatu Saham (Bag. I)
Pada artikel sebelumnya disini, kita sudah sedikit mengupas mengenai pentingnya Nilai Buku per Lembar Saham/BVPS (Ekuitas/Jumlah lembar saham) dalam mencari nilai intrinsik sebuah saham. Metode menghitung BVPS ini dikenal juga dengan istilah Net Assets Value (NAV). Metode ini pertama sekali diperkenalkan oleh Benjamin Graham, seorang profesor di Columbia University pada tahun 1934. Menimbang tahunnya, metode ini tergolong old-school dan sangat konservatif, tapi tidak ada salahnya kita sedikit mengupas latar belakang dari metode NAV ini dan sosok yang memperkenalkan metode ini yang hingga sekarang masih dianut oleh kebanyakan para deep-value investor.
Wednesday, August 15, 2018
WEGE - WIJAYA KARYA BANGUNAN GEDUNG
Perusahaan ini sejatinya baru IPO pada November 2017 lalu, dimana hasil IPO ketika itu perusahaan berhasil mengumpulkan modal sebesar 800an milyar dan dari laporan keuangan akhir tahun 2017 perusahaan memiliki ekuitas sebesar hampir 1,7 triliun. Tapi satu hal yang membuat penulis tertarik adalah, sebelum IPO perusahaan memiliki ekuitas 1,7T dikurang 0,8T hasil IPO maka ekuitas sebelum IPO yaitu sekitar 860M. Dan karena IPO baru saja dilakukan pada akhir 2017 maka bisa dibilang bahwa WEGE selama kinerja 2017 berarti belum menggunakan dana hasil IPO untuk modal kerja operasionalnya, daan lagi apa Anda tahu berapa laba bersih WEGE selama 2017? WEGE berhasil membukukan laba bersih sebesar 295M, dan ini berarti sebelum IPO WEGE memiliki nilai RoE sebesar 34%! Dan dengan nilai RoE sebesar ini, tentu saja WEGE ini bisa dibilang perusahaan yang sangat bagus kinerja dan fundamentalnya. Tapi bagaimana setelah IPO?
Tuesday, July 17, 2018
Beli di harga murah, Jual di harga mahal
Jika seorang pedagang ditanya bagaimana cara untuk menghasilkan keuntungan dari suatu perdagangan, maka tentu saja jawaban yang akan ia berikan adalah jual lah produk Anda dengan harga yang lebih tinggi daripada ongkos pembelian atau pembuatan produk itu. Apabila pertanyaan yang sama Anda ajukan kepada seorang investor di pasar saham, maka mungkin ada banyak jawaban yang bervariasi yang akan Anda dapatkan.
Bagi penulis sendiri, jawabannya mungkin bisa diamati dari beberapa tulisan hasil analisis saham yang pernah diulas di web ini. Dan tampaknya jawabannya akan mirip dengan jawaban pedagang di atas. Belilah saham pada harga murah, jual lah pada harga tinggi. Jawaban ini akan berbeda antara suatu investor dengan yang lainnya. Ada seorang kerabat yang saya kenal, yang hanya membeli saham satu emiten saja. Tidak peduli ketika harganya mahal ataupun murah, ia tetap membeli saham tersebut walaupun saham tetangga harganya tengah meroket dan diburu semua investor. Dan walaupun begitu, anehnya ia tetap mendapatkan keuntungan dan merasa puas dengan metode tersebut.
Saturday, June 30, 2018
ASSA - Adi Sarana Armada
Dahulunya perusahaan ini bernama Adira Rent sebelum kemudian berubah nama menjadi Adi Sarana Armada pada tahun 2009 dan kemudian listing dengan kode ASSA pada tahun 2012. Bisnis inti ASSA bergerak dalam bidang rental mobil sekaligus manajemen kendaraan dan sewa jasa driver dengan klien korporasi. Perusahaan juga melakukan jasa transportasi logistik dan sejak 2014 melakukan ekspansi dengan membuka balai lelang mobil dengan merk Bidwin.
Mungkin beberapa dari kita tidak asing dengan mobil box atau truk dengan logo seperti di atas. Entah kenapa penulis merasa logo tersebut memberikan kesan-kesan yang kental dan suasana yang agak-agak mirip dengan Astra. Dan ternyata, walaupun tidak ada kaitan kepemilikan langsung dengan Astra, tetapi ASSA memang bisa dibilang perusahaan mirip-mirip Astra. ASSA merupakan anak usaha dari Triputra Group, yang didirikan oleh Theodore Permadi Rachmat, mantan Bos Astra, yang kemudian merintis bisnis sendiri di Adira, Adaro, dan Triputra. Dan sepertinya TP Rachmat membujuk banyak kolega dan anak buahnya di Astra dulu untuk kemudian mengisi posisi di manajemen ASSA sehingga bisa dibilang inilah penyebab kenapa ASSA ini seolah memiliki cita rasa dan sentuhan ala-ala Astra.
Wednesday, May 30, 2018
PBID - Potensi di balik bisnis kantong plastik
Kalau Anda sering berbelanja di pasar tradisional, seharusnya Anda tidak asing dengan penampakan gambar di atas. Mungkin jarang dari kita yang memerhatikan barang yang saya lingkari dengan garis merah, karena memang terkesan sepele. Ya, barang yang saya maksud di atas adalah kantong plastik. Ketika berbelanja, baik di pasar tradisional, minimarket atau bahkan supermarket, konsumen memang akan lebih fokus terhadap barang apa yang dibeli, berapa harganya, dan ketika belanjaan dibungkus pun biasanya kita lebih fokus menghitung uang kembalian atau mengecek struk belanjaan. Termasuk saya sendiri, walaupun sejak kecil sering menemani Ibu belanja ke pasar tradisional, dan terlebih lagi setelah berkeluarga dimana setiap minggu menemani istri ke pasar, tidak pernah sekalipun terbersit di pikiran saya untuk mencari tahu atau memerhatikan kantong plastik atau kantong kresek yang diberikan oleh si penjual. Tapi semenjak salah satu emiten plastik yang akan kita bahas ini masuk ke dalam list saham pilihan saya, setiap kali berbelanja di pasar atau bahkan kadang hanya lewat di depan lapak tukang gorengan, saya curi-curi pandang untuk mencari tahu kresek merk apa yang mereka gunakan. Dan ternyata, kantong plastik dengan merk seperti gambar di atas tidak asing lagi di lingkungan kita,
Karena anggapan remeh terhadap bisnis kantong plastik seperti di atas, sangat mungkin juga tidak pernah terpikirkan oleh kita pertanyaan yang mungkin muncul seperti "Berapa sih pendapatan dari jualan kantong plastik doang?". Saya sendiri juga cukup kaget ketika kemaren mengamati Panca Budi Idaman, emiten produsen dan distributor kantong plastik cap Tomat, Bawang, Wayang dll yang produknya tanpa kita sadar banyak beredar di pasar bahkan di dapur kita sendiri. PBID ini mempunyai pendapatan mencapai Rp. 2,1 Triliun dari hanya menjual kantong plastik saja. Belum dari hasil ekspor biji plastik dan produk-produk lainnya seperti sedotan plastik, tali rafia, dus kue dan bungkus nasi. Oke, sounds big. Lalu bagaimana prospeknya?
Wednesday, May 16, 2018
INDR - Value Trap Indo-Rama Synthetics Tbk?
Indo Rama ini mungkin salah satu emiten yang "terlihat" sangat potensial bagi para value investor dikarenakan PBVnya yang sangat kecil. Saat ini rata-rata harga INDR ini ada di kisaran 3600-3700, dan dengan harga segitu PBV INDR ini masih sekitaran 0,5-0,6 padahal INDR ini sudah naik banyak dari awal mei, tidak lama setelah perusahaan ini merilis Laporan Keuangan (LK) Q1 nya, sahamnya langsung loncat dari 1000an hingga 3000an seperti sekarang.
Yang membuat INDR terlihat sangat menarik adalah, pada LK Q1 2018 nya perusahaan mencantumkan laba tahun berjalan sebesar $13,2 juta, tumbuh 760% dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya dimana laba perusahaan hanya $1,5 juta. Pertumbuhan yang sangat luar biasa tentunya, karena apabila perusahaan membukukan laba yang anggaplah sama besarannya tiap kuartal hingga akhir tahun nanti, maka INDR akan mampu mencetak ROE sebesar 16-18%. Dan dengan PBVnya yang tadi dibawah 0,5, INDR ini terlihat sangat menggiurkan, sehingga menyebabkan para investor berbondong-bondong memburu saham INDR ini.
Saya pribadi pun sempat tergiur dengan fundamental INDR yang sejak 2018 ini tampak sangat bagus. Tapi apabila kita telisik lebih jauh di laporan laba-rugi perusahaan, laba operasi INDR ini sebenarnya hanya tumbuh 28%. Walaupun terbilang cukup lumayan, tapi tetap belum sebanding dengan pertumbuhan laba bersihnya yang mencapai 760% tadi. Jadi akun apa yang menyebabkan INDR ini tumbuh drastis labanya? Mari kita simak laporan laba rugi INDR berikut.
Saya pribadi pun sempat tergiur dengan fundamental INDR yang sejak 2018 ini tampak sangat bagus. Tapi apabila kita telisik lebih jauh di laporan laba-rugi perusahaan, laba operasi INDR ini sebenarnya hanya tumbuh 28%. Walaupun terbilang cukup lumayan, tapi tetap belum sebanding dengan pertumbuhan laba bersihnya yang mencapai 760% tadi. Jadi akun apa yang menyebabkan INDR ini tumbuh drastis labanya? Mari kita simak laporan laba rugi INDR berikut.
Tuesday, May 8, 2018
CITA - Pemain Tunggal Smelter Grade Alumina
Sektor tambang selain batubara dan minyak bumi mungkin tampak kurang menarik di mata kebanyakan para pemain saham di Indonesia. Bagi saya sendiri bahkan terkadang "lupa" bahwa di IHSG ada banyak emiten lain yang juga tergolong sektor tambang selain batubara. Memang sejak dulu emiten-emiten saham batubara lebih diminati, ketika harga batubara memulai tren naik, maka para investor dan trader tanpa dikomando segera memburu emiten-emiten batubara, ketika harga batubara mulai turun, para investor segera berbondong-bondong angkat kaki. Mungkin karena jamak tertanam dibenak para investor dan trader bahwa bisnis batubara bisa dibilang bisnis paling "mudah" dari segi pengolahan, tidak perlu banyak proses yang membutuhkan bahan baku lain yang diperoleh dari pasar domestik atau bahkan diimpor dari luar.
Salah satu bisnis tambang yang mungkin agak terpinggirkan tapi sebenarnya sedang memiliki prospek yang cerah adalah Bauksit. Hal ini karena alumunium yang bahan bakunya bauksit, harganya sedang dalam tren naik, bahkan lebih dulu memulai tren kenaikannya dibandingkan batubara. Puncaknya pada agustus 2017 lalu dimana harga acuan alumunium di London Metal Exchange tembus $2000 per ton, dan hingga sekarang harganya stabil antara $2000-$2500 per ton.
Saturday, May 5, 2018
Catatan dan tips investasi di masa bearish
Merupakan sebuah self reminder bagi penulis pribadi, apa yang harus dilakukan ketika IHSG sedang mengalami bearish seperti saat ini dimana IHSG sudah rontok dari puncaknya sekitar 6500an pada februari lalu sampai di bawah 5800 akhir minggu ini. Biasanya ketika IHSG sedang koreksi, bisa berlangsung berbulan-bulan, terakhir seperti masa koreksi pertama yang penulis alami ketika baru memulai investasi saham pada 2015 silam dimana setelah bullish sepanjang 2014, IHSG mulai tren penurunannya pada april yang berlanjut hingga september. Setelah itu IHSG mulai rebound, walaupun baru memulai tren bullishnya lagi pada Q3 2016. Jadi pada waktu itu tren penurunan IHSG berlangsung selama 6 bulan.
Dan akan berlangsung seberapa lamakah koreksi IHSG sekarang?
Monday, April 30, 2018
PSSI - Pelita Samudera Shipping
Walaupun perusahaan ini baru IPO pada awal desember lalu, tapi sejatinya perusahaan ini sudah beroperasi sejak tahun 2007. Dan sejak IPO dengan harga penawaran 135, saham PSSI sempat turun hingga 102 lalu kemudian meloncat ke 230an dan sampai sekarang gak kemana-mana mondar-mandir di 150-200.
Jadi PSSI ini sebenarnya adalah perusahaan angkutan laut yang khusus melayani pengangkutan dan pemindahmuatan batubara. Pada dasarnya perusahaan juga seharusnya bisa melayani pengangkutan mineral-mineral lainnya selain batubara, tetapi hingga sekarang semua pelanggan PSSI merupakan perusahaan kontraktor batubara, jadi bisa dibilang pendapatan PSSI sangat bergantung pada prospek bisnis batubara itu sendiri.
Nah, karena harga batubara sudah mulai pulih sejak pertengahan 2016, bahkan pada akhir 2016 harga batubara acuan mencapai $100 per metric ton (berulang lagi pada februari kemaren dimana harga batubara acuan tembus lagi $100 per metric ton) yang mengakibatkan saham-saham perusahaan "owner" batubara seperti ADRO, ITMG, PTBA sudah naik banyak sejak 2016, bisa ditebak berikutnya yang terkena efek kenaikan harga batubara adalah perusahaan kontraktor batubara seperti INDY dimana sahamnya baru terbang pada pertengahan 2017 kemaren.
Rentetan efek kenaikan batubara belum berakhir, dimana emiten yang belakangan ikut terkerek adalah emiten bisnis transportasi batubara seperti Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) dan PSSI ini sendiri. Berbeda dengan MBSS, PSSI ini sebagaimana kita ketahui baru listing akhir 2017 lalu, dan apa menariknya?
Wednesday, April 25, 2018
JSMR - JASA MARGA turun dalam. Peluang kah?
Ketika kemaren penulis mengecek harga saham yang sudah jual jenuh atau "turun banyak" dengan indikator stochastic (ya, saya juga terkadang menggunakan indikator teknikal, walaupun pada dasarnya seorang fundamentalis, lebih sering hanya untuk mengetahui saham-saham yang sudah turun jauh), salah satu saham yang menarik perhatian adalah JSMR ini, dimana pada saat itu harganya ditutup pada 4.290, turun jauh dari puncak harganya 6.725 pada November 2017, atau sudah turun lebih dari 35% dalam 5 bulan!
Terakhir kali JSMR turun dalam yaitu pada tahun 2015, dimana saat itu JSMR juga turun hampir 35%, tetapi butuh waktu satu tahun bagi JSMR untuk dapat turun sejauh itu. Dan apabila kita bandingkan penurunan saat ini turun 2 kali lebih cepat dibandingkan tahun 2015. Apakah dengan harganya ini JSMR menjadi peluang?
Subscribe to:
Posts (Atom)


