Showing posts with label Valuasi saham. Show all posts
Showing posts with label Valuasi saham. Show all posts

Monday, August 31, 2020

Ayo belanja di Supra Boga Lestari!

Awalnya penulis ingin membuat tulisan tentang prospek MNCN, terutama setelah induk usahanya yaitu BMTR belakangan menjadi sedikit heboh karena investor kawakan Lo Kheng Hong diketahui memiliki saham BMTR dengan porsi kepemilikan lebih dari 5%. Akan tetapi ketika kemaren penulis bersama istri dengan terpaksa harus berjalan-jalan ke Mall untuk membeli sesuatu, penulis melihat salah satu supermarket yang kondisinya cukup ramai pengunjung. Kebetulan karena memerlukan sesuatu penulis akhirnya mampir ke supermarket tersebut dan sempat berkeliling didalamnya. Supermarket tersebut juga cukup nyaman dan ada sedikit sensasi hiburan ketika berkeliling didalamnya melihat barang-barang yang dijajakan ditata begitu rapi dan menarik. Apa nama supermarketnya? Supra Boga Lestari.

Farmers Market. Supermarket milik PT. Supra Boga Lestari Tbk
source image: bintarojayaxchange.com

Friday, August 21, 2020

Saham Super Murah LPCK

Prinsip dari value investing adalah membeli saham dengan harga semurah mungkin yang karena saking murahnya sangat kecil kemungkinan bagi saham tersebut untuk dihargai lebih murah lagi, dengan kata lain resiko rugi (downside) dari investasi di saham tersebut sangat kecil. Sebaliknya, saham tersebut memiliki potensi untuk dihargai jauh lebih tinggi (upside) dibandingkan nilainya sekarang. 

Jadi tugas seorang value investor adalah mencari saham-saham yang memiliki kedua kriteria di atas. Kriteria pertama biasanya ditemukan apabila pbv dari saham < 0.3 kali. Dan saat ini ada banyak saham-saham di BEI yang memenuhi kriteria ini, sehingga bisa dibilang sahamnya sudah ga mungkin turun lagi karena sudah super murah (asalkan perusahaan gak bangkrut aja) jadi resiko downsidenya terbatas. Kemudian tugas berikutnya dari value investor adalah mencari saham yang super murah tapi juga memenuhi syarat kedua, yaitu memiliki potensi untuk dihargai jauh lebih tinggi. Dan salah satu saham yang menurut penulis memenuhi kedua kriteria di atas adalah LPCK alias Lippo Cikarang Tbk.

Proyek Meikarta yang sempat ramai tahun 2017 lalu 
source: bersapedahan.wordpress.com

Sunday, August 9, 2020

Batubara Lagi! MBAP Mitrabara Adiperdana Tbk

Batubara lagi? Ya, karena mayoritas perusahaan di BEI saat ini harganya sudah nanggung, mahal gak, murah juga gak. Karena ekspektasi terhadap pelonggaran PSBB, IHSG sudah naik sampai sekarang di level 5100an, alhasil saham-saham bluechip dan second liner juga mulai ikutan naik. Tapi naiknya masih terbatas karena gak ada yang tau Q3 nanti apakah perusahaan-perusahaan tersebut beneran jadi positif atau malah tetep rugi dibanding tahun sebelumnya. 

Nah, untuk batubara sendiri karena memang harga batubara sampai saat ini masih berada di level $50an per ton, dan ini berarti harganya tidak jauh beda dibandingkan pas anjlok pada 2016 lalu, maka bisa dibilang badai untuk saham-saham batubara sudah lewat. Karena meskipun angka penderita coivd-19 masih naik terus di seluruh dunia, tapi sudah gak bakal ada cerita lagi negara-negara akan menerapkan lockdown seperti maret-april lalu karena dampaknya terhadap ekonomi terlalu besar. Alhasil mau gak mau saat ini ekonomi harus dibuka tapi dengan protokol-protokol tertentu. Dan sudah pasti industri-industri dan pabrik-pabrik akan beroperasi lagi sehingga kebutuhan listrik akan kembali meningkat sehingga demand terhadap batubara akan pulih.

Saturday, June 20, 2020

Prospek Multibagger Saham Ayam MAIN & JPFA

Dibandingkan dengan perusahaan "ayam-ayam" lain seperti Japfa ataupun Charoen Pokphand, MAIN ini kalah tenar dan kalah jauh secara skala bisnis maupun fundamentalnya. Berdasarkan rilis laporan keuangan Q1 2020 MAIN mengalami penurunan laba bersih -84% dibandingkan tahun lalu. Sedangkan JPFA masih mengalami pertumbuhan pendapatan dan laba, begitu juga dengan CPIN. Lalu kenapa malah bahas MAIN? Apakah prospek MAIN ini masih bagus padahal pada kuartal 1 saja yang ketika itu pandemi belum terlalu berdampak tetapi bisnis perusahaan sudah hancur-hancuran? (CPIN akan kita exclude dari pembahasan, karena valuasinya yang sudah tergolong premium, jadi kita akan lebih fokus terhadap MAIN dan JPFA)

Monday, December 31, 2018

Cara Menilai Harga Wajar suatu Saham (Bag. III: Discounted Owner's Earning)

Sebelumnya kita sudah membahas metode Fair PBV Ratio disini, dimana metode ini cocok digunakan di kebanyakan perusahaan-perusahaan di BEI karena mayoritas merupakan perusahaan heavy-asset. Akan tetapi, metode ini tidak bisa diterapkan untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki intangible-asset seperti aset merk yang mungkin sudah sangat melekat di telinga rakyat Indonesia dimana nilai dari aset ini sangat sulit untuk diperkirakan. Lalu bagaimana cara menilai harga wajar sahamnya?