Belakangan ini penulis mencari-cari perusahaan yang bisnisnya diuntungkan karena pandemi Covid-19, selain dari farmasi, fast-moving consumer goods, dan perusahaan media tentunya, karena sektor ini sudah ketebak akan terimbas positif akibat pandemi. Setelah LK kuartal I keluar pun juga mayoritas perusahaan-perusahaan kompak membukukan penurunan pendapatan, tapi ternyata ketika 24 Juni lalu BULL merilis laporan keuangannya, laba perusahaan naik hampir 5 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Sahamnya sendiri ternyata sudah terbang sejak awal mei lalu dari 170an hingga kemaren ditutup di 302, sudah naik 70% lebih. Benarkah prospek BULL ini sebegitu menterengnya sejak Covid-19? Masih bisa naikkah harga sahamnya?
Catatan seorang part-time investor terkait analisis dan aksi investasi sahamnya
Showing posts with label multibagger. Show all posts
Showing posts with label multibagger. Show all posts
Saturday, July 4, 2020
Saturday, June 20, 2020
Prospek Multibagger Saham Ayam MAIN & JPFA
Dibandingkan dengan perusahaan "ayam-ayam" lain seperti Japfa ataupun Charoen Pokphand, MAIN ini kalah tenar dan kalah jauh secara skala bisnis maupun fundamentalnya. Berdasarkan rilis laporan keuangan Q1 2020 MAIN mengalami penurunan laba bersih -84% dibandingkan tahun lalu. Sedangkan JPFA masih mengalami pertumbuhan pendapatan dan laba, begitu juga dengan CPIN. Lalu kenapa malah bahas MAIN? Apakah prospek MAIN ini masih bagus padahal pada kuartal 1 saja yang ketika itu pandemi belum terlalu berdampak tetapi bisnis perusahaan sudah hancur-hancuran? (CPIN akan kita exclude dari pembahasan, karena valuasinya yang sudah tergolong premium, jadi kita akan lebih fokus terhadap MAIN dan JPFA)
Monday, June 1, 2020
Saham Potensi Multibagger: DOID
Saham batubara saat ini sedang tidak menarik, selain karena harga batubara yang tengah anjlok, juga karena hampir semua negara terkena impact perlambatan bahkan kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid 19, sehingga permintaan akan batubara sebagai energi bahan baku utama yang dibutuhkan oleh industri-industri, pembangkit listrik otomatis menurun. Dan sampai saat ini masih belum tampak arah kapan akan berakhirnya pandemi ini. Sementara semboyan-semboyan new-normal mulai digaungkan, beberapa negara yang telah mulai membuka aktivitas ekonominya kembali mengalami peningkatan jumlah positif Covid-19, sehingga semboyan new-normal tadi masih akan membutuhkan waktu untuk dapat diadaptasi oleh pelaku industri. Dan apabila seandainya new-normal berhasil diadaptasi, tetapi secara nilai ekonomi tidak akan pernah sama lagi seperti sebelum masa pandemi. Terkecuali apabila vaksin atau antivirus dari Covid-19 ini segera ditemukan, maka waktu yang dibutuhkan agar ekonomi dapat pulih lagi lebih cepat.
Pandemi ini juga mengharuskan kita para investor untuk lebih berhati-hati dalam menganalisis bisnis yang akan kita pilih. Selain harus meneliti prospek industri perusahaan tersebut setelah pandemi, maka perlu diperhatikan juga resiko hutang yang dimiliki. Dari segi industri, maka sebenarnya prospek industri batubara kedepannya masih bisa dibilang positif, meskipun permintaan China akan batubara berangsur-angsur menurun, saat ini ada banyak negara berkembang yang menjadi pendorong utama menggantikan permintaan China, seperti negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Meskipun saat ini permintaan akan batubara menurun karena memang roda industri di masing-masing negara tersebut dipaksa melambat, tapi dalam jangka menengah-panjang, batubara tetap masih akan dibutuhkan sebagai komoditas pembangkit energi di negara-negara berkembang tadi yang belakangan industrinya tumbuh sangat cepat. Dan pandemi ini bukan berarti akan menghentikan prospek tadi, tapi hanya menunda sebelum nanti keadaan berangsur pulih.
Apabila pada tulisan sebelumnya kita membahas tentang PT. Bukit Asam Tbk, yang fundamentalnya cenderung lebih solid, kali ini kita akan membahas salah satu operator tambang batubara, yaitu Delta Dunia Makmur, yang harga sahamnya terus turun dari puncaknya awal 2018 pada harga 1100an sampai mentok di 90an pada market crash Maret 2020 kemaren dan sekarang cenderung adem di 120-130an. Dibandingkan dengan PTBA yang sahamnya hanya turun setengahnya dari puncaknya pada 2018, DOID sudah turun seperseluh dari harga puncaknya. Dan jika PTBA kemungkinan besar masih akan membukukan laba (walaupun pasti tergerus) pada tahun ini, bagaimana dengan DOID? Apakah cocok menjadi pilihan saham multibagger yang potensi profitnya bisa berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan PTBA?
Saturday, May 9, 2020
Saham Potensi Multibagger: PTBA
Ketika beberapa waktu lalu China melakukan lockdown kemudian tidak lama diikuti oleh hampir semua negara-negara industri besar lainnya, permintaan terhadap komoditas seperti minyak, gas, dan batubara menurun drastis sehingga harganya kompak turun semua. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa saham-saham komoditas menjadi pilihan favorit para investor di Indonesia, terkhususnya batubara, karena ada lebih banyak perusahaan batubara di Indonesia yang listing di bursa efek saat ini dibandingkan perusahaan minyak dan gas.
Nah, karena harga batubara sendiri kemaren sudah anjlok bahkan mencapai titik terendahnya sejak lebih dari 10 tahun lalu, maka dapat dipastikan pada tahun 2020 ini perusahaan batubara di Indonesia akan membukukan penurunan laba yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan bahkan karena harga sahamnya sendiri sudah turun lebih dulu karena crash maret lalu, saat ini ada banyak saham batubara yang sangat murah beberapa bahkan pbvnya saat ini dibawah 0,5. Akan tetapi perusahaan yang akan kita bahas berikut walaupun saat ini pbvnya bahkan tidak sampai di bawah satu kali, tapi tetap memiliki potensi profit berkali-kali lipat. Perusahaan ini sempat dibahas sekilas pada 2018 lalu di sini dan ketika itu memberikan profit yang cukup lumayan bagi penulis. Apa perusahaannya?
Sunday, May 3, 2020
Saham Potensi Multibagger: PTPP
Pada tulisan sebelumnya kita sudah bahas singkat bagaimana cara berinvestasi di masa krisis seperti saat ini. Salah satu opportunity yang hadir yaitu banyaknya saham-saham super murah yang bisa memberikan profit berkali-kali lipat ketika ekonomi dan pasar pulih nanti atau biasa disebut saham multibagger. Ciri-cirinya juga sudah disebutkan dimana biasanya saham multibagger memiliki Pbv < 0,5 dan Per < 10, selain itu perusahaannya adalah perusahaan ternama, punya market share yang dominan dalam bisnisnya, ataupun perusahaan yang cyclical yang ketika bisnisnya pada masa lalu berada di puncak maka labanya naik pesat sehingga mengerek fundamental dan harga sahamnya.
Apabila kita urut nilai Pbv saham-saham saat ini mulai dari Pbv terendah hingga tertinggi (maksimal 0,5), maka dengan hanya melihat sekilas nama-nama saham yang ada dalam list tersebut, kita akan menemukan perusahaan yang sangat tidak asing ini, yang biasanya dihargai paling tidak 1 kali ekuitasnya pada kondisi market normal, tapi saat ini bahkan Pbvnya hanya 0,3! Perusahaannya tidak lain adalah PTPP.
Subscribe to:
Posts (Atom)


