Saturday, June 30, 2018

ASSA - Adi Sarana Armada

Dahulunya perusahaan ini bernama Adira Rent sebelum kemudian berubah nama menjadi Adi Sarana Armada pada tahun 2009 dan kemudian listing dengan kode ASSA pada tahun 2012. Bisnis inti ASSA bergerak dalam bidang rental mobil sekaligus manajemen kendaraan dan sewa jasa driver dengan klien korporasi. Perusahaan juga melakukan jasa transportasi logistik dan sejak 2014 melakukan ekspansi dengan membuka balai lelang mobil dengan merk Bidwin.


Mungkin beberapa dari kita tidak asing dengan mobil box atau truk dengan logo seperti di atas. Entah kenapa penulis merasa logo tersebut memberikan kesan-kesan yang kental dan suasana yang agak-agak mirip dengan Astra. Dan ternyata, walaupun tidak ada kaitan kepemilikan langsung dengan Astra, tetapi ASSA memang bisa dibilang perusahaan mirip-mirip Astra. ASSA merupakan anak usaha dari Triputra Group, yang didirikan oleh Theodore Permadi Rachmat, mantan Bos Astra, yang kemudian merintis bisnis sendiri di Adira, Adaro, dan Triputra. Dan sepertinya TP Rachmat membujuk banyak kolega dan anak buahnya di Astra dulu untuk kemudian mengisi posisi di manajemen ASSA sehingga bisa dibilang inilah penyebab kenapa ASSA ini seolah memiliki cita rasa dan sentuhan ala-ala Astra.

Thursday, June 21, 2018

Idul Fitri 1439H

Pemerintah beberapa waktu lalu akhirnya mengumumkan menambah cuti bersama lebaran 1439H sebanyak 3 hari, dari sebelumnya hanya empat menjadi tujuh hari. Hal ini tentunya juga menambah jadwal libur bursa saham di Indonesia sehingga selama bulan Juni total hari bursa efektif hanya sekitar 13 hari. Beberapa pihak menyayangkan keputusan pemerintah tersebut karena tentu saja mengurangi produktivitas para trader dan investor. Bayangkan berapa jumlah potensi transaksi yang hilang dalam 3 hari tersebut, dimana dalam satu hari saja perputaran uang di bursa mencapai belasan triliun.

Lalu, sebagai investor, apa yang dapat kita lakukan di masa libur bursa saat ini?

Wednesday, May 30, 2018

PBID - Potensi di balik bisnis kantong plastik


Kalau Anda sering berbelanja di pasar tradisional, seharusnya Anda tidak asing dengan penampakan gambar di atas. Mungkin jarang dari kita yang memerhatikan barang yang saya lingkari dengan garis merah, karena memang terkesan sepele. Ya, barang yang saya maksud di atas adalah kantong plastik. Ketika berbelanja, baik di pasar tradisional, minimarket atau bahkan supermarket, konsumen memang akan lebih fokus terhadap barang apa yang dibeli, berapa harganya, dan ketika belanjaan dibungkus pun biasanya kita lebih fokus menghitung uang kembalian atau mengecek struk belanjaan. Termasuk saya sendiri, walaupun sejak kecil sering menemani Ibu belanja ke pasar tradisional, dan terlebih lagi setelah berkeluarga dimana setiap minggu menemani istri ke pasar, tidak pernah sekalipun terbersit di pikiran saya untuk mencari tahu atau memerhatikan kantong plastik atau kantong kresek yang diberikan oleh si penjual. Tapi semenjak salah satu emiten plastik yang akan kita bahas ini masuk ke dalam list saham pilihan saya, setiap kali berbelanja di pasar atau bahkan kadang hanya lewat di depan lapak tukang gorengan, saya curi-curi pandang untuk mencari tahu kresek merk apa yang mereka gunakan. Dan ternyata, kantong plastik dengan merk seperti gambar di atas tidak asing lagi di lingkungan kita,

Karena anggapan remeh terhadap bisnis kantong plastik seperti di atas, sangat mungkin juga tidak pernah terpikirkan oleh kita pertanyaan yang mungkin muncul seperti "Berapa sih pendapatan dari jualan kantong plastik doang?". Saya sendiri juga cukup kaget ketika kemaren mengamati Panca Budi Idaman, emiten produsen dan distributor kantong plastik cap Tomat, Bawang, Wayang dll yang produknya tanpa kita sadar banyak beredar di pasar bahkan di dapur kita sendiri. PBID ini mempunyai pendapatan mencapai Rp. 2,1 Triliun dari hanya menjual kantong plastik saja. Belum dari hasil ekspor biji plastik dan produk-produk lainnya seperti sedotan plastik, tali rafia, dus kue dan bungkus nasi. Oke, sounds big. Lalu bagaimana prospeknya?

Sunday, May 20, 2018

Akhirnya JSMR dibawah 4000!

Seperti yang pernah kita bahas panjang lebar disini, JSMR merupakan opsi untuk investasi  di salah satu saham  bluechip, walaupun mungkin dalam 1-2 tahun ini bisa saja JSMR ini gak kemana-mana atau turun lebih dalam lagi (dan harusnya gak bakal jeblok-jeblok amat sampe di bawah 3500) tapi JSMR ini memberikan potensi gain yang sangat lumayan apabila diberikan sentimen-sentimen positif seperti kenaikan tarif tol, dan memang JSMR sangat sensitif terhadap isu ini. 

Seperti yang sudah penulis sampaikan juga, idealnya JSMR dibeli secara repetitif seperti ketika anda habis gajian misalnya, sehingga nanti kita terus melakukan averaging down  sepanjang tahun ini sampai tahun depan. Kemaren penulis juga menyampaikan idealnya JSMR mulai dibeli ketika sudah turun sampai di bawah 4000, dan pada penutupan terakhir JSMR ditutup di 3970. Walaupun sepertinya harganya akan segera rebound hingga di atas 4000 lagi disebabkan investor smart money  akan mulai menyicil saham ini karena harganya saat ini sudah tergolong murah, tapi seharusnya JSMR tidak akan rebound  untuk periode yang lama karena hingga saat ini belum ada katalis untuk memicu kenaikan JSMR ini secara fundamental. Dan kedepan sepertinya JSMR justru malah akan bergerak sideways. 

Jadi, segera  cicil JSMR ini karena akan sangat jarang sekali anda mendapatkan kesempatan  membeli di harga semurah ini, dan selanjutnya berdoa agar tarif tol setelah 2019 nanti segera naik (walaupun juga pasti akan naik, tapi berdoalah agar kenaikannya dipercepat 😬)

Wednesday, May 16, 2018

INDR - Value Trap Indo-Rama Synthetics Tbk?

Indo Rama ini mungkin salah satu emiten yang "terlihat" sangat potensial bagi para value investor dikarenakan PBVnya yang sangat kecil. Saat ini rata-rata harga INDR ini ada di kisaran 3600-3700, dan dengan harga segitu PBV INDR ini masih sekitaran 0,5-0,6 padahal INDR ini sudah naik banyak dari awal mei, tidak lama setelah perusahaan ini merilis Laporan Keuangan (LK) Q1 nya, sahamnya langsung loncat dari 1000an hingga 3000an seperti sekarang.

Yang membuat INDR terlihat sangat menarik adalah, pada LK Q1 2018 nya perusahaan mencantumkan laba tahun berjalan sebesar $13,2 juta, tumbuh 760% dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya dimana laba perusahaan hanya $1,5 juta. Pertumbuhan yang sangat luar biasa tentunya, karena apabila perusahaan membukukan laba yang anggaplah sama besarannya tiap kuartal hingga akhir tahun nanti, maka INDR akan mampu mencetak ROE sebesar 16-18%. Dan dengan PBVnya yang tadi dibawah 0,5, INDR ini terlihat sangat menggiurkan, sehingga menyebabkan para investor berbondong-bondong memburu saham INDR ini.

Saya pribadi pun sempat tergiur dengan fundamental INDR yang sejak 2018 ini tampak sangat bagus. Tapi apabila kita telisik lebih jauh di laporan laba-rugi perusahaan, laba operasi INDR ini sebenarnya hanya tumbuh 28%. Walaupun terbilang cukup lumayan, tapi tetap belum sebanding dengan pertumbuhan laba bersihnya yang mencapai 760% tadi. Jadi akun apa yang menyebabkan INDR ini tumbuh drastis labanya? Mari kita simak laporan laba rugi INDR berikut.