Sunday, August 9, 2020

Batubara Lagi! MBAP Mitrabara Adiperdana Tbk

Batubara lagi? Ya, karena mayoritas perusahaan di BEI saat ini harganya sudah nanggung, mahal gak, murah juga gak. Karena ekspektasi terhadap pelonggaran PSBB, IHSG sudah naik sampai sekarang di level 5100an, alhasil saham-saham bluechip dan second liner juga mulai ikutan naik. Tapi naiknya masih terbatas karena gak ada yang tau Q3 nanti apakah perusahaan-perusahaan tersebut beneran jadi positif atau malah tetep rugi dibanding tahun sebelumnya. 

Nah, untuk batubara sendiri karena memang harga batubara sampai saat ini masih berada di level $50an per ton, dan ini berarti harganya tidak jauh beda dibandingkan pas anjlok pada 2016 lalu, maka bisa dibilang badai untuk saham-saham batubara sudah lewat. Karena meskipun angka penderita coivd-19 masih naik terus di seluruh dunia, tapi sudah gak bakal ada cerita lagi negara-negara akan menerapkan lockdown seperti maret-april lalu karena dampaknya terhadap ekonomi terlalu besar. Alhasil mau gak mau saat ini ekonomi harus dibuka tapi dengan protokol-protokol tertentu. Dan sudah pasti industri-industri dan pabrik-pabrik akan beroperasi lagi sehingga kebutuhan listrik akan kembali meningkat sehingga demand terhadap batubara akan pulih.

Saturday, July 25, 2020

Investasi di Saham LUCK?

Beberapa hari terakhir ramai diperbincangkan bahwa salah satu financial planner ternama digugat oleh kliennya karena si klien merasa dirugikan oleh si financial planner. Penyebabnya karena si financial planner yang seharusnya hanya memberikan saran dan nasehat investasi saham tetapi malah ikut memainkan dana investasi si klien. Mending kalau dikelolanya untung, tetapi si klien mengaku justru saat ini dana investasinya malah dalam posisi rugi besar. Jadi bagaimana pendapat penulis terkait hal ini?

Saturday, July 18, 2020

Saham Salah Harga TBLA

TBLA atau Tunas Baru Lampung Tbk ini oleh BEI dikategorikan ke dalam sektor Agricultural berbarengan dengan AALI, SMAR, UNSP, SIMP dan lain-lain yang mayoritas merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Jadi biasanya sektor seperti ini memiliki tipikal bisnis yang cyclical, naik turun labanya tergantung dari harga komoditas CPO sehingga apabila harga CPO turun, maka turun pula labanya dan sebaliknya.

Akan tetapi untuk TBLA ini sedikit berbeda, karena perusahaan ini memiliki diversifikasi usaha, selain memiliki kebun sawit, TBLA juga memiliki ladang tebu dengan kontribusi dari sawit 70% dan tebu 30%. Jadi apabila harga CPO anjlok paling tidak kontribusi dari ladang tebu bisa menutupi. Selain itu, perusahaan memiliki industri hulu-hilir dari kedua komoditas tersebut. Jadi di sektor hulu perusahaan memiliki kebun sawit dan tebu, di sektor hilir perusahaan menjual minyak goreng dan gula pasir dengan merek Rose Brand.

Produk hilirisasi berupa minyak goreng dan gula pasir dengan merek Rose Brand dari TBLA

Saturday, July 4, 2020

BULL Saham yang Diuntungkan Karena Covid-19

Belakangan ini penulis mencari-cari perusahaan yang bisnisnya diuntungkan karena pandemi Covid-19, selain dari farmasi, fast-moving consumer goods, dan perusahaan media tentunya, karena sektor ini sudah ketebak akan terimbas positif akibat pandemi. Setelah LK kuartal I keluar pun juga mayoritas perusahaan-perusahaan kompak membukukan penurunan pendapatan, tapi ternyata ketika 24 Juni lalu BULL merilis laporan keuangannya, laba perusahaan naik hampir 5 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Sahamnya sendiri ternyata sudah terbang sejak awal mei lalu dari 170an hingga kemaren ditutup di 302, sudah naik 70% lebih. Benarkah prospek BULL ini sebegitu menterengnya sejak Covid-19? Masih bisa naikkah harga sahamnya?

Kapal Tanker BULL Kangean, dibangun tahun 2004 sebagai kapal tangker minyak dengan kapasitas 38 ribu DWT dan panjang 173.9 meters. Kapal-kapal yang belakangan dibeli BULL berjenis Aframax dengan kapasitas angkut hingga lebih 100 ribu DWT dengan panjang kapal mencapai 250 meter. Total hingga saat ini BULL memiliki 17 kapal berjenis Aframax 
source image: market.bisnis.com

Saturday, June 20, 2020

Prospek Multibagger Saham Ayam MAIN & JPFA

Dibandingkan dengan perusahaan "ayam-ayam" lain seperti Japfa ataupun Charoen Pokphand, MAIN ini kalah tenar dan kalah jauh secara skala bisnis maupun fundamentalnya. Berdasarkan rilis laporan keuangan Q1 2020 MAIN mengalami penurunan laba bersih -84% dibandingkan tahun lalu. Sedangkan JPFA masih mengalami pertumbuhan pendapatan dan laba, begitu juga dengan CPIN. Lalu kenapa malah bahas MAIN? Apakah prospek MAIN ini masih bagus padahal pada kuartal 1 saja yang ketika itu pandemi belum terlalu berdampak tetapi bisnis perusahaan sudah hancur-hancuran? (CPIN akan kita exclude dari pembahasan, karena valuasinya yang sudah tergolong premium, jadi kita akan lebih fokus terhadap MAIN dan JPFA)